Wisata Desa Penglipuran Bali 2026 yang Mendunia

Traveling50 Views

Desa Penglipuran kembali menjadi sorotan dunia pada tahun 2026. Desa adat yang terletak di Kabupaten Bangli ini sudah lama dikenal karena tata ruangnya yang rapi, budaya yang dijaga dengan baik, serta suasana yang menenangkan. Namun pada 2026, Penglipuran semakin mendunia berkat penghargaan internasional, peningkatan fasilitas wisata, serta keberhasilan warga desa dalam mempertahankan tradisi di tengah modernisasi pariwisata global.

“Setiap kali berkunjung ke Penglipuran, saya merasa seperti melangkah ke dunia yang lebih tenang dan penuh harmoni.”

Artikel ini mengulas secara mendalam bagaimana Desa Penglipuran berkembang pada 2026 sebagai destinasi wisata berkelas dunia tanpa kehilangan identitas adatnya.


Penglipuran yang Semakin Populer di Mata Dunia pada 2026

Popularitas Desa Penglipuran meningkat pesat berkat promosi digital, penghargaan internasional, serta semakin banyaknya wisatawan yang mencari destinasi dengan konsep slow tourism.

Penglipuran menawarkan pengalaman yang berbeda dari hingar bingar pariwisata Bali. Desa ini mengutamakan ketenangan, kebersihan, dan budaya lokal, sehingga menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Penghargaan Global untuk Konservasi Budaya

Tahun 2026, Penglipuran menerima penghargaan dari organisasi pariwisata dunia karena berhasil menjaga struktur desa adat, arsitektur tradisional, serta tradisi turun temurun.

Penghargaan ini menjadikan Penglipuran semakin dikenal dan dikunjungi peneliti, influencer travel, hingga pecinta budaya dari berbagai negara.

“Saya merasa bangga melihat desa ini tetap mempertahankan jati diri meski telah dikenal seluruh dunia.”


Suasana Desa yang Tetap Autentik Meski Jumlah Wisatawan Meningkat

Jumlah wisatawan yang datang ke Penglipuran meningkat drastis. Namun desa ini berhasil mengatur aliran wisata melalui pembatasan harian dan aturan ketat agar suasana tetap nyaman.

Ruang Desa yang Simetris dan Tertata

Penglipuran terkenal dengan tata ruangnya yang simetris dari ujung utara ke selatan. Rumah rumah tradisional berjajar rapi, menciptakan harmoni visual.

Rumah rumah adat memiliki pintu gerbang bambu khas Bali yang dikenal sebagai angkul angkul. Desainnya membuat setiap rumah tampak seperti karya seni.

Jalan Utama Tanpa Kendaraan

Tidak ada kendaraan bermotor yang diperbolehkan melintas di jalan utama. Hal ini menjaga keheningan desa dan membuat wisatawan dapat berjalan santai tanpa gangguan.

“Berjalan di Penglipuran terasa seperti kembali ke masa lalu ketika hidup lebih sederhana dan tenang.”


Arsitektur Adat Bali yang Dipertahankan Hingga Sekarang

Salah satu pesona utama Penglipuran adalah komitmen warganya dalam mempertahankan arsitektur adat Bali. Tidak ada rumah modern yang dibangun seenaknya. Semua rumah mengikuti pola tradisional.

Material Alami dari Bambu dan Kayu

Penggunaan bambu sangat dominan di Penglipuran. Bambu digunakan untuk kerajinan, hiasan rumah, hingga struktur bangunan.

Tata Letak Ruang yang Filosofis

Rumah adat Penglipuran dibangun mengikuti konsep Tri Mandala yaitu pembagian ruang berdasarkan nilai spiritual, sosial, dan fungsional.


Hutan Bambu Penglipuran yang Menjadi Daya Tarik Ekowisata

Penglipuran memiliki hutan bambu seluas lebih dari 40 hektare yang menjadi penyangga ekosistem desa. Pada 2026, hutan bambu ini menjadi destinasi ekowisata baru yang sangat diminati.

Jalur Trekking Hutan Bambu

Wisatawan dapat mengikuti trekking ringan di bawah naungan bambu hijau yang berayun ditiup angin. Suasana hutan sangat sejuk dan damai.

“Trekking di hutan bambu Penglipuran membuat saya merasa dunia menjadi lebih lembut.”

Edukasi Pengelolaan Bambu

Pengunjung juga dapat belajar tentang cara masyarakat mengelola bambu secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.


Tradisi Masyarakat Penglipuran yang Tetap Hidup di Tahun 2026

Budaya dan tradisi menjadi jantung Penglipuran. Wisatawan dapat menyaksikan langsung bagaimana masyarakat menjalankan ritual adat.

Upacara Adat dan Aktivitas Harian

Pengunjung dapat melihat prosesi adat, membuat sesajen, hingga melihat warga membuat kerajinan bambu.

Kehidupan Sosial yang Harmonis

Penglipuran dikenal sebagai desa dengan etika sosial yang kuat. Warga saling membantu dan menjaga kebersihan bersama.


Kuliner Tradisional Penglipuran yang Mewakili Rasa Bali Asli

Kuliner menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Penglipuran memiliki hidangan khas yang jarang ditemukan di kota besar.

Jaje Bali dan Wedang Herbal

Wisatawan dapat mencicipi jaje Bali seperti laklak, jaje uli, atau klepon khas desa. Minuman herbal dari rempah lokal menjadi pendamping yang menyegarkan.

Makanan Tradisional di Rumah Warga

Banyak rumah warga yang menawarkan paket makan tradisional sebagai pengalaman budaya.


Penglipuran pada 2026 Menjadi Destinasi Fotografi Kelas Dunia

Instagram, TikTok, dan platform visual lain membuat Penglipuran semakin terkenal. Foto foto desa yang simetris dan seragam warna menjadi daya tarik utama.

Titik Foto Populer

Gerbang bambu setiap rumah menjadi spot foto favorit wisatawan. Pada sore hari, cahaya matahari menambah keindahan visual.

Fotografi Budaya

Warga dengan pakaian adat menjadi subjek yang sering diabadikan.

“Saya merasa setiap sudut Penglipuran adalah lukisan hidup yang menunggu dipotret.”


Wisata Edukasi untuk Anak Muda dan Pelajar

Desa Penglipuran tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga laboratorium budaya untuk para pelajar dan peneliti.

Belajar Tentang Tradisi Bali

Workshop membuat sesajen, belajar tari Bali, dan belajar gamelan menjadi favorit pelajar internasional.

Edukasi Ekowisata

Pengelolaan bambu, pemilahan sampah, dan sistem kebersihan desa menjadi contoh bagi desa desa lain di Indonesia.


Homestay Penglipuran 2026 yang Semakin Diminati Wisatawan

Homestay menjadi pilihan wisatawan yang ingin merasakan kehidupan desa lebih dalam.

Pengalaman Menginap dengan Sentuhan Lokal

Homestay menawarkan kamar sederhana namun nyaman, lengkap dengan sarapan tradisional.

Interaksi dengan Keluarga Lokal

Wisatawan dapat beraktivitas langsung dengan keluarga pemilik homestay.


Penglipuran Menjadi Simbol Pariwisata Berkelanjutan Indonesia

Penglipuran menjadi contoh bagaimana pariwisata tidak harus menghancurkan budaya. Sebaliknya, pariwisata dapat menjadi alat melestarikan identitas.

“Penglipuran menunjukkan bahwa pariwisata dan tradisi bisa berjalan berdampingan jika dikelola dengan hati.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *