Karhutla Bromo Sulit Dipadamkan, Pakar IPB Ungkap Penyebab Api Cepat Menjalar

Berita13 Views

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau TNBTS menjadi perhatian besar setelah api terus menjalar sejak awal Agustus 2026. Pemadaman tidak berlangsung mudah meski ratusan personel, kendaraan pemadam, drone, hingga helikopter water bombing telah dikerahkan. Persoalannya bukan semata besarnya api. Bentuk kawasan Bromo, lereng yang sangat curam, vegetasi kering, angin yang berubah cepat, serta terbatasnya sumber air membuat pekerjaan petugas jauh lebih rumit.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof Bambang Hero Saharjo menjelaskan bahwa karakter kawasan Bromo mempunyai peranan besar terhadap cepatnya pergerakan api. Sebagian area merupakan wilayah terbuka dengan bahan tumbuhan yang mudah terbakar. Kondisi geografis TNBTS yang menyerupai kuali juga membuat pola angin dan perjalanan api tidak mudah diperkirakan.

Kebakaran dilaporkan bermula pada Senin, 3 Agustus 2026. BNPB pada 5 Agustus masih mencatat sekitar 60 hektare lahan terbakar di wilayah Probolinggo dan Malang. Dalam perkembangannya, luas kawasan terdampak bertambah cepat. BNPB mencatat 889 hektare pada 11 Agustus, sementara pembaruan berikutnya dari lapangan menunjukkan angka mendekati 900 hektare. Pemberitaan pada 13 Agustus bahkan mencatat sekitar 942 hektare telah terbakar.

Bentuk Bromo Seperti Kuali Membuat Api Sulit Diperkirakan

Salah satu penjelasan utama datang dari bentuk geografis kawasan Bromo. Pemandangan kaldera yang selama ini menjadi daya tarik wisata ternyata menciptakan tantangan tersendiri ketika kebakaran terjadi.

Prof Bambang Hero menjelaskan TNBTS memiliki karakter geografis menyerupai kuali. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pola penjalaran api karena arah serta kecepatan angin di sekitar lereng dapat berubah. Ketika angin bertemu lereng dan cekungan, pergerakannya tidak selalu sama seperti di lahan datar.

Bagi petugas pemadam, perubahan tersebut sangat menentukan. Titik yang beberapa menit sebelumnya tampak relatif aman dapat berubah ketika angin berbalik. Api yang sebelumnya bergerak ke satu arah dapat berpindah menuju bagian lain yang mempunyai bahan bakar lebih banyak.

Situasi menjadi semakin berat ketika api bergerak ke lereng. Panas dari kebakaran dapat bergerak menuju bagian vegetasi di atasnya dan membantu proses penyalaan berlangsung lebih cepat. Dalam kondisi seperti ini, petugas harus terus memperhatikan arah angin sebelum mendekati titik api.

BNPB juga mengonfirmasi persoalan topografi tersebut. Sejumlah titik kebakaran berada di ketinggian dengan sudut kemiringan yang disebut dapat mencapai 80 derajat. Medan seperti itu terlalu berbahaya untuk dimasuki personel darat karena risiko jatuh, tertimpa material, terjebak asap, atau terkepung api.

Menurut penulis, persoalan kebakaran Bromo menunjukkan bahwa luas api bukan satu satunya ukuran tingkat kesulitan pemadaman. Api yang berada di lereng curam dengan jalur akses terbatas dapat jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lebih luas di medan yang relatif mudah dicapai.

Vegetasi Kering Berubah Menjadi Bahan Bakar Api

Bentuk lahan bukan satu satunya persoalan. Memasuki musim kemarau, banyak vegetasi di kawasan pegunungan mengalami penurunan kadar air. Rumput, semak, ranting, daun yang jatuh, serta tumbuhan lain dapat berubah menjadi bahan yang mudah terbakar.

Prof Bambang menyebut sejumlah area rawan kebakaran di Bromo berada dalam kondisi terbuka dan memiliki bahan bakar mudah terbakar dalam jumlah besar. Jika api mencapai area tersebut ketika angin cukup kuat, penjalarannya dapat berlangsung jauh lebih cepat.

BNPB sejak awal kejadian mencatat vegetasi yang terbakar meliputi padang savana, cemara gunung, akasia, dan kaliandra. Api kemudian bergerak ke sejumlah bagian lain kawasan TNBTS.

Rumput kering menjadi persoalan khusus karena mudah tersulut dan dapat membawa api ke lokasi berikutnya dalam waktu singkat. Bahan tumbuhan berukuran kecil membutuhkan energi lebih sedikit untuk terbakar dibandingkan batang yang masih mengandung banyak air.

Saat angin bertiup, bagian vegetasi yang terbakar juga dapat menghasilkan bara kecil. Bara tersebut berpotensi berpindah dan jatuh pada material kering di tempat lain sehingga muncul titik baru di luar garis kebakaran utama.

Inilah salah satu alasan api terlihat sudah berkurang di satu lokasi tetapi petugas belum dapat langsung menyatakan kawasan aman.

Angin Bromo Bisa Membuat Api Berubah Arah

Angin merupakan salah satu faktor yang berulang kali disebut dalam penanganan kebakaran Bromo. Pada musim kemarau, vegetasi sudah berada dalam kondisi lebih mudah terbakar. Ketika angin bertiup kencang, api mendapatkan bantuan untuk menjalar lebih cepat.

BNPB menyatakan sejak awal penanganan bahwa angin kencang di sekitar lereng Kaldera Bromo berpotensi mempercepat perambatan api.

Prof Bambang juga menyoroti perubahan arah dan kecepatan angin. Menurut dia, dua hal tersebut membuat pergerakan api sulit diprediksi. Persoalannya semakin besar ketika vegetasi kering tersedia dalam jumlah banyak.

Kecepatan angin berpengaruh terhadap kemiringan nyala api. Api yang terdorong mendekati permukaan vegetasi berikutnya dapat memanaskan bahan tersebut lebih cepat sebelum akhirnya ikut terbakar.

Perubahan arah angin juga sangat berbahaya bagi tim darat. Jalur yang sebelumnya digunakan sebagai lokasi aman dapat berubah menjadi jalur penjalaran api apabila arah angin berbalik.

Karena itu, pemadaman tidak dapat dilakukan hanya dengan mengejar titik api terdekat. Petugas harus memperhitungkan posisi tim, arah angin, lokasi vegetasi kering serta jalur keluar apabila kondisi tiba tiba berubah.

Lereng Curam Membatasi Pergerakan Petugas Darat

Pada kebakaran di kawasan yang mempunyai akses kendaraan, petugas dapat membawa mobil pemadam, tangki air dan selang mendekati api. Situasinya berbeda di sebagian kawasan Bromo.

BNPB menemukan titik api berada di medan dengan kemiringan sangat curam. Pada beberapa lokasi, sudut lereng dapat mencapai sekitar 80 derajat. Petugas tidak dapat dipaksakan masuk hanya untuk mengejar titik api karena keselamatan personel menjadi pertimbangan utama.

Masalah ini sudah terlihat sejak hari pertama penanganan. BNPB pada 6 Agustus mencatat masih terdapat satu titik api yang tidak dapat dipadamkan langsung karena berada di area ekstrem dengan kontur terjal. Titik lain juga ditemukan di lereng Kaldera Bromo yang sulit dijangkau tim darat.

Kondisi tersebut membuat peralatan sederhana seperti gepyok dan sprayer hanya efektif di lokasi tertentu.

Petugas tetap menggunakannya ketika medan memungkinkan. Namun, pada tebing atau lereng yang terlalu berbahaya, pemadaman harus menunggu bantuan udara atau dilakukan dari titik yang relatif aman.

Kesulitan akses turut membuat pendinginan membutuhkan waktu lebih lama. Setelah api utama mengecil, bara yang tertinggal pada vegetasi harus diperiksa untuk memastikan tidak menyala kembali.

Sumber Air Tidak Banyak di Dekat Lokasi Kebakaran

Air menjadi persoalan berikutnya. Pemadaman melalui darat maupun udara membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, sedangkan sumber air di sekitar kawasan kebakaran tidak tersedia merata.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut keterbatasan sumber air sebagai salah satu dari tiga kendala utama penanganan karhutla Bromo. Armada pemadaman pada periode tersebut mengandalkan pengisian dari kawasan Ranu Pani.

Persoalan jarak membuat siklus pemadaman menjadi lebih panjang. Helikopter harus bergerak dari titik kebakaran menuju lokasi pengambilan air, melakukan pengisian, kembali menuju sasaran, menjatuhkan air, lalu mengulangi proses tersebut.

Hal serupa berlaku pada operasi darat. Jika kendaraan tangki tidak dapat mencapai titik terdekat akibat medan, air harus dipindahkan melalui peralatan lain atau petugas melakukan pemadaman menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi.

Pada 6 Agustus, BPBD Jawa Timur juga telah mengerahkan mobil tangki air untuk mendukung tim darat. Drone digunakan untuk melihat penyebaran titik api sehingga personel dapat mengetahui lokasi yang masih membutuhkan penanganan.

Water Bombing Dibutuhkan untuk Titik yang Tak Bisa Dijangkau

Ketika petugas tidak dapat mendekati titik api karena kemiringan lereng, operasi udara menjadi salah satu pilihan utama. BNPB kemudian mengerahkan helikopter water bombing untuk menangani titik yang tidak aman dicapai dari darat.

Pada 11 Agustus, tiga helikopter water bombing disiagakan dalam operasi Bromo. BNPB menargetkan titik api yang tersisa dapat segera dikendalikan sehingga sebagian armada bisa dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan bantuan.

Water bombing memungkinkan air dijatuhkan langsung ke area yang sulit dicapai. Namun operasi udara juga tidak sesederhana membawa helikopter di atas api.

Pilot harus memperhitungkan angin, asap, jarak pandang, kondisi medan dan posisi tim yang berada di bawah. Penjatuhan air juga harus dilakukan secara tepat agar mengenai garis api atau lokasi yang membutuhkan pendinginan.

Prof Bambang mengingatkan penggunaan helikopter harus dilakukan dengan benar. Hembusan kuat dari rotor perlu diperhitungkan agar tidak justru membantu penyebaran bara atau mengganggu garis api yang sedang ditangani.

Karena itu, operasi udara harus terhubung dengan informasi dari petugas darat dan pemantauan udara.

Pemadaman Darat dan Udara Tidak Bisa Berjalan Sendiri Sendiri

Menurut Prof Bambang, kebakaran dengan kondisi seperti di Bromo tidak cukup ditangani menggunakan satu metode. Pemadaman darat dan udara harus digabungkan sesuai kebutuhan lapangan.

Tim darat mempunyai keunggulan untuk memastikan api benar benar padam pada lokasi yang bisa dijangkau. Personel dapat menemukan bara kecil, memutus bahan bakar, membersihkan area tertentu serta melakukan pendinginan.

Sementara itu, helikopter dapat menjangkau lereng dan tebing yang terlalu berbahaya bagi manusia.

Drone juga mempunyai posisi penting dalam operasi seperti ini. BNPB mencatat penggunaan pesawat nirawak dilakukan sejak awal untuk memantau persebaran titik api dan membantu petugas menentukan lokasi sasaran pemadaman.

Pemantauan udara menjadi semakin penting karena titik api dapat tersembunyi di balik lereng, semak atau cekungan yang tidak terlihat dari posisi personel.

Koordinasi di antara semua unsur akhirnya menentukan efektivitas operasi. Penanganan Bromo melibatkan BNPB, BPBD dari beberapa daerah, Balai Besar TNBTS, Polisi Kehutanan, Perhutani, TNI, Polri, relawan, Masyarakat Peduli Api dan unsur pemerintah daerah.

Hujan Buatan Tidak Bisa Langsung Dilakukan

Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk membantu pemadaman. Namun metode tersebut bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi persyaratan.

BNPB pada 11 Agustus menyebut kondisi atmosfer ketika itu belum memungkinkan OMC langsung dilakukan. Berdasarkan analisis BMKG yang disampaikan BNPB, potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan muncul sekitar 14 sampai 16 Agustus.

Associated Press juga melaporkan kondisi atmosfer sebelumnya belum menyediakan awan pembawa hujan yang sesuai untuk operasi modifikasi cuaca. Akibatnya, pemerintah pada periode tersebut lebih mengandalkan water bombing dan tim pemadam darat.

Hal ini penting karena OMC bukan teknologi untuk menciptakan awan dari langit yang benar benar cerah.

Operasi tersebut membutuhkan awan yang mempunyai kandungan air dan karakter tertentu. Bahan semai kemudian digunakan untuk mendorong proses pembentukan hujan dari awan yang sudah tersedia.

Jika awan yang memenuhi syarat tidak ada, pelaksanaannya harus menunggu kondisi atmosfer berubah.

Api Padam Belum Berarti Kawasan Langsung Aman

Salah satu hal yang ditekankan Prof Bambang adalah proses pemantauan setelah nyala api hilang. Menurutnya, padamnya api di permukaan belum otomatis membuat kawasan aman.

Bara kecil dapat bertahan pada tumpukan bahan organik, pangkal semak atau vegetasi yang tidak sepenuhnya habis. Ketika angin kembali bertiup dan bahan di sekitarnya masih kering, bara tersebut dapat memunculkan nyala baru.

Situasi seperti ini membuat kegiatan pendinginan dan patroli menjadi penting.

Pada 13 Agustus, laporan lapangan menyebut sektor P30 sudah tidak menemukan titik api sejak pagi, tetapi pemantauan tetap dilakukan pada beberapa bagian lain seperti Dengklik, Penanjakan dan Tosari.

Pemantauan juga diperlukan untuk memastikan titik yang terlihat padam dari kejauhan benar benar sudah tidak mempunyai sumber panas.

Teknologi drone, pengamatan langsung dan pemeriksaan berulang menjadi bagian penting dari fase ini.

Vegetasi Khas TNBTS Membutuhkan Perhatian Serius

Kawasan TNBTS tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata. Di dalamnya terdapat berbagai jenis vegetasi yang tumbuh mengikuti ketinggian dan karakter lingkungan pegunungan.

Prof Bambang menyebut sejumlah tumbuhan khas seperti puspa, rasamala dan saninten di zona pegunungan bawah. Pada bagian lebih tinggi terdapat cemara gunung, edelweis Jawa dan cantigi.

Kebakaran luas dapat menghilangkan tutupan vegetasi dan mengubah kondisi permukaan tanah. Setelah api berhenti, proses pemulihan tidak selalu berlangsung cepat, khususnya apabila kebakaran terjadi dengan intensitas tinggi.

Area yang kehilangan vegetasi juga menjadi lebih terbuka terhadap sinar matahari dan perubahan suhu permukaan.

Pemulihan setiap jenis tumbuhan dapat berbeda. Ada vegetasi yang mampu tumbuh kembali relatif cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu panjang karena pertumbuhannya lambat atau membutuhkan kondisi lingkungan tertentu.

Karena itulah penanganan setelah pemadaman perlu mencakup pemetaan area terbakar dan pemeriksaan kondisi vegetasi, bukan berhenti pada keberhasilan mematikan nyala api.

Kebakaran 2023 Menjadi Peringatan yang Kembali Dibicarakan

Bromo sebelumnya mengalami kebakaran besar pada 2023. Peristiwa tersebut banyak dikenal setelah penggunaan flare dalam kegiatan foto pranikah memicu kebakaran di kawasan savana.

Prof Bambang menilai kejadian besar pada 2023 semestinya menjadi bahan pembelajaran agar sistem pengendalian kebakaran terus diperbaiki. Ia menekankan penanganan harus mencakup pencegahan, pemadaman serta pemulihan setelah kebakaran.

Pengalaman tersebut memperlihatkan betapa kecilnya sumber api yang dibutuhkan untuk memicu kebakaran ketika vegetasi berada dalam keadaan sangat kering.

Karena itu, pembatasan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api menjadi semakin penting selama musim kemarau.

BNPB juga terus meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api, khususnya ketika kondisi kering dan berangin. Masyarakat diminta segera melaporkan titik api agar pemadaman dapat dilakukan ketika skalanya masih kecil.

Menurut penulis, pelajaran terpenting dari kebakaran pegunungan seperti Bromo berada pada kecepatan respons. Api yang masih berukuran kecil jauh lebih mungkin dikendalikan sebelum mencapai lereng curam dan bertemu hamparan vegetasi kering yang luas.

Deteksi Dini Menjadi Kunci Sebelum Api Membesar

Prof Bambang menempatkan deteksi dini sebagai salah satu bagian terpenting dalam pengendalian karhutla. Indikasi kebakaran perlu ditemukan secepat dan seakurat mungkin agar api dapat dihentikan sebelum berkembang.

Bromo mempunyai tantangan besar karena wilayahnya luas dengan bentuk permukaan yang tidak seragam. Pengawasan tidak dapat hanya mengandalkan petugas yang melihat asap secara langsung dari satu pos.

Penggunaan kamera, drone, patroli lapangan, laporan masyarakat hingga pemantauan titik panas dapat membantu memperpendek waktu antara munculnya api dan dimulainya pemadaman.

Kecepatan tersebut sangat menentukan pada musim kemarau.

Catatan BNPB menunjukkan perubahan luas kebakaran berlangsung cepat. Pada 5 Agustus, sekitar 60 hektare dilaporkan terbakar. Enam hari kemudian, pemetaan BNPB mencatat kawasan yang terdampak telah mencapai 889 hektare dan tersebar di wilayah administratif Probolinggo, Lumajang, Malang serta Pasuruan.

Pergerakan itu memperlihatkan bagaimana kombinasi bahan bakar kering, angin dan medan berat dapat membuat kemampuan pemadaman tertinggal dari kecepatan penjalaran api.

Prof Bambang karena itu mendorong kesiapan personel dan sarana tidak hanya ditingkatkan ketika kebakaran sudah membesar. Masyarakat yang terlibat dalam pemadaman juga perlu mendapatkan pengetahuan dasar agar tindakan di lapangan tidak tanpa sengaja memperluas api.

Bagi kawasan Bromo, pengawasan pada periode kemarau menjadi semakin penting karena medan berbentuk kaldera, sumber air yang terbatas, vegetasi mudah terbakar dan perubahan angin membuat satu titik api kecil dapat berkembang menjadi operasi pemadaman yang melibatkan ratusan personel dan dukungan udara selama berhari hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *