Gempa besar yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 membuat kehidupan warga berubah dalam waktu singkat. Selain kerusakan rumah dan fasilitas umum, sektor pendidikan menghadapi persoalan serius. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melaporkan sekitar 38 ribu warga sekolah harus mengungsi, sementara ribuan ruang kelas tidak dapat digunakan secara normal karena mengalami kerusakan.
Gempa utama berkekuatan M7,7 terjadi pada Sabtu pagi pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa dangkal tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik.
Situasi belum sepenuhnya tenang setelah gempa utama. Ribuan gempa susulan terus tercatat, sementara sebagian warga memilih bertahan di pengungsian karena rumah mereka rusak atau khawatir terhadap guncangan berikutnya. Kondisi tersebut membuat kegiatan pendidikan harus menyesuaikan keadaan keselamatan di masing masing daerah.
Sekitar 38 Ribu Warga Sekolah Terpaksa Meninggalkan Tempat Tinggal
Besarnya gangguan terhadap pendidikan terlihat dari jumlah warga sekolah yang harus berada di pengungsian. Kemendikdasmen menyebut lebih dari 80 ribu warga secara keseluruhan sempat mengungsi dalam pembaruan yang digunakan kementerian, termasuk sekitar 38 ribu warga sekolah.
Warga sekolah yang dimaksud mencakup murid, guru, serta tenaga kependidikan. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan gedung yang rusak. Banyak guru dan murid juga harus menghadapi persoalan tempat tinggal, kebutuhan keluarga, kesehatan, serta ketidakpastian mengenai kapan kegiatan belajar dapat berjalan seperti sebelumnya.
Data korban juga menyentuh lingkungan pendidikan. Kemendikdasmen menyampaikan tiga murid dan satu guru termasuk di antara korban meninggal yang teridentifikasi dalam pembaruan mereka.
Catatan korban secara keseluruhan kemudian terus berubah seiring proses pendataan. BNPB dalam pembaruan pada 22 Agustus 2026 mencatat korban meninggal telah mencapai 87 orang, sedangkan korban luka mencapai 1.298 orang. Jumlah pengungsi secara keseluruhan juga meningkat menjadi sekitar 150.576 jiwa.
Perbedaan angka dari satu pembaruan dengan pembaruan lainnya terjadi karena proses verifikasi masih terus berlangsung di lapangan.
Sebanyak 1.378 Satuan Pendidikan Terkena Gempa
Persoalan pendidikan di Flores tersebar dalam wilayah yang luas. Data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana per 20 Agustus 2026 mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan berada dalam wilayah yang terkena gempa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.268 satuan pendidikan atau sekitar 92 persen telah memberikan laporan mengenai kondisi mereka. Sekolah sekolah tersebut tersebar di tujuh kabupaten dengan jumlah sekitar 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan sebelum aktivitas pendidikan benar benar kembali stabil. Pemeriksaan bukan hanya diperlukan terhadap ruang kelas, tetapi juga laboratorium, perpustakaan, toilet, ruang guru, halaman sekolah, serta fasilitas penunjang lainnya.
Sekolah yang terlihat masih berdiri juga belum tentu langsung dapat digunakan. Pemeriksaan konstruksi dibutuhkan untuk mengetahui apakah retakan hanya berada pada bagian nonstruktural atau telah mengenai bagian utama bangunan.
Menurut penulis, keputusan membuka kembali sekolah tidak seharusnya hanya didasarkan pada tampilan bangunan dari luar. Keselamatan murid dan guru harus menjadi pertimbangan pertama selama gempa susulan masih berlangsung.
Lebih dari Lima Ribu Ruang Kelas Mengalami Kerusakan
Kerusakan fasilitas pendidikan menjadi salah satu masalah terbesar setelah gempa. Dari 8.664 ruang kelas yang telah terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas atau sekitar 63,7 persen dilaporkan mengalami kerusakan.
Angka yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada kategori berat. Kemendikdasmen mencatat sekitar 2.229 ruang kelas masuk dalam kondisi rusak berat atau rusak total. Selain itu, sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Kerusakan juga ditemukan pada fasilitas selain ruang belajar. Laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, serta rumah dinas guru ikut mengalami kerusakan di beberapa wilayah.
Kondisi seperti ini membuat pembukaan sekolah tidak dapat dilakukan secara serentak. Sekolah dengan kerusakan ringan mungkin dapat kembali beroperasi setelah pemeriksaan dan perbaikan tertentu, sedangkan sekolah yang mengalami kerusakan berat membutuhkan pilihan tempat belajar lain.
Tenda, gedung masyarakat yang aman, ruang sementara, hingga pembelajaran dari rumah akhirnya menjadi pilihan selama proses penanganan berlangsung.
Lebih dari 116 Ribu Murid Harus Menyesuaikan Cara Belajar
Kemendikdasmen menyebut pembelajaran bagi sekitar 116.324 murid harus disesuaikan dengan situasi pascagempa. Pemerintah Provinsi NTT mengambil kebijakan agar kegiatan pendidikan dilakukan dari rumah maupun tempat pengungsian pada daerah yang belum aman.
Dari sekolah yang telah melaporkan pelaksanaan pembelajaran, sebanyak 923 satuan pendidikan menggunakan metode belajar dari rumah. Sebanyak 171 sekolah menjalankan pembelajaran secara daring, sementara 35 sekolah menggunakan kelas darurat.
Hanya sekitar 30 sekolah dalam data tersebut yang masih melakukan kegiatan tatap muka.
Pembelajaran dari rumah tentu mempunyai tantangan tersendiri. Sebagian keluarga kehilangan tempat tinggal atau tinggal di tenda sehingga ruang untuk belajar sangat terbatas. Ketersediaan listrik, perangkat digital, jaringan internet, buku, serta alat tulis juga tidak sama di setiap lokasi.
Dalam keadaan seperti ini, target pendidikan tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan hari sekolah biasa. Materi perlu disusun mengikuti kemampuan murid dan kondisi tempat mereka tinggal.
Kelas Darurat Disiapkan untuk Sekolah yang Rusak Berat
Penyediaan ruang belajar sementara menjadi salah satu langkah yang sedang dipersiapkan. BNPB menyebut tenda akan didistribusikan agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang kelas darurat bagi satuan pendidikan yang bangunannya tidak dapat digunakan.
Tenda kelas menjadi pilihan karena dapat didirikan lebih cepat dibanding menunggu pembangunan gedung baru. Namun keberadaannya tetap membutuhkan perencanaan. Lokasi harus aman dari bangunan yang berisiko roboh, tanah longsor, pohon besar, dan berbagai bahaya lain.
Kebutuhan di dalam kelas sementara juga tidak berhenti pada tenda. Meja, kursi, papan tulis, pencahayaan, sirkulasi udara, toilet, air bersih, serta tempat penyimpanan bahan belajar perlu disediakan.
Di daerah dengan jumlah murid besar, satu sekolah bahkan dapat membutuhkan beberapa ruang sementara agar pembelajaran tidak berlangsung dengan kepadatan berlebihan.
Pemerintah juga harus mempertimbangkan kemungkinan penggunaan sistem bergantian apabila jumlah ruang belum mampu menampung seluruh murid dalam satu waktu.
Ribuan Gempa Susulan Membuat Sekolah Tidak Bisa Terburu Buru Dibuka
Alasan utama kegiatan sekolah belum dapat kembali normal adalah aktivitas gempa susulan yang masih tinggi. BMKG mencatat hingga 20 Agustus pukul 05.00 WIB sudah terjadi sekitar 3.394 gempa susulan dengan kekuatan antara M1,1 hingga M6,2.
Jumlah tersebut kemudian terus bertambah. BNPB dalam pembaruan 23 Agustus menyebut catatan gempa susulan telah melampaui 5.000 kejadian. Magnitudo terbesar berada pada M6,2 dan sedikitnya 124 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Gempa M5,7 pada 20 Agustus misalnya dirasakan hingga intensitas V sampai VI MMI di Kabupaten Manggarai. BMKG menyebut gempa itu merupakan bagian dari rangkaian susulan gempa M7,7.
Guncangan seperti ini menjadi persoalan bagi bangunan sekolah yang telah kehilangan sebagian kekuatan konstruksinya. Retakan yang sebelumnya kecil dapat bertambah, material plafon dapat jatuh, sementara bagian dinding yang sudah lemah berpotensi mengalami kerusakan tambahan.
Karena itu, sekolah yang masih berdiri tetap memerlukan pemeriksaan sebelum digunakan kembali.
Gempa Utama M7,7 Sempat Memicu Peringatan Tsunami
Gempa pada 15 Agustus juga sempat membuat warga pesisir menghadapi ancaman tsunami. BMKG mengeluarkan peringatan dini setelah parameter gempa diperbarui menjadi M7,7.
Hasil pengamatan muka air laut kemudian memperlihatkan perubahan di sejumlah lokasi. BMKG mencatat ketinggian sekitar 0,94 meter di Maurole, Ende, 0,54 meter di Bulukumba, 0,38 meter di Pelabuhan Kewapante, Sikka, serta sekitar 0,36 meter di Labuan Bajo.
Setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka laut yang membahayakan, peringatan dini tsunami dihentikan pada pukul 07.30 WIB.
Pengalaman tersebut menjadi perhatian khusus bagi sekolah yang berada dekat wilayah pesisir. Selain kekuatan konstruksi gedung, jalur menuju tempat aman juga perlu menjadi bagian dari kesiapan sekolah ketika aktivitas pendidikan kembali berlangsung.
Guru dan murid perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika merasakan gempa kuat tanpa menunggu terlalu lama untuk mengambil tindakan keselamatan.
Belajar dari Pengungsian Membutuhkan Pendekatan Berbeda
Tempat pengungsian bukan lingkungan yang dirancang sebagai ruang pendidikan. Satu area dapat ditempati puluhan hingga ratusan keluarga dengan aktivitas berlangsung hampir sepanjang hari.
Anak harus berbagi tempat dengan orang dewasa, balita, lansia, serta keluarga lain. Kondisi tersebut membuat konsentrasi belajar sulit disamakan dengan ruang kelas biasa.
Kemendikdasmen telah menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat yang memberikan fleksibilitas terhadap cara serta materi pembelajaran. Penekanan diarahkan pada materi esensial, kemampuan literasi, numerasi dasar, serta dukungan psikososial.
Pendekatan semacam ini diperlukan karena beberapa anak mungkin kehilangan rumah, barang pribadi, alat sekolah, bahkan anggota keluarga.
Proses pembelajaran pada tahap awal tidak semestinya hanya mengejar banyaknya halaman buku yang harus diselesaikan. Rasa aman, rutinitas sederhana, kegiatan bersama teman, dan hubungan dengan guru dapat membantu anak kembali memiliki struktur kegiatan sehari hari.
Guru Juga Menjalani Kehidupan sebagai Pengungsi
Perhatian terhadap pendidikan sering berfokus pada murid, padahal banyak guru dan tenaga kependidikan menghadapi persoalan serupa. Sebagian harus meninggalkan rumah, mengurus keluarga, sekaligus tetap memikirkan kegiatan belajar anak didiknya.
Data pendidikan mencatat lebih dari 21 ribu guru dan tenaga kependidikan berada pada satuan pendidikan yang terkena gempa. Sebagian dari kelompok ini termasuk warga sekolah yang harus mengungsi.
Kondisi guru sangat menentukan keberlanjutan kelas darurat. Seorang guru yang masih mencari tempat tinggal aman untuk keluarganya tentu menghadapi beban berbeda dengan kondisi hari kerja biasa.
Penyediaan tempat tinggal sementara, kebutuhan dasar, alat komunikasi, perlengkapan mengajar, dan dukungan psikososial bagi guru sama pentingnya dengan menyediakan tenda kelas.
Menurut penulis, pemulihan kegiatan belajar akan berjalan lebih baik ketika guru juga memperoleh ruang untuk memulihkan kehidupan keluarganya, bukan hanya diminta segera kembali menjalankan jadwal sekolah.
Bantuan School Kit Mulai Disalurkan ke Sejumlah Kabupaten
Kemendikdasmen telah mengirim tim ke wilayah NTT sejak 16 Agustus 2026. Tim bergerak dari Labuan Bajo menuju sejumlah kawasan yang memerlukan bantuan dan pendataan pendidikan.
Bantuan awal yang dibawa meliputi sekitar 4.500 bingkisan anak, paket kebutuhan pokok, 800 school kit, serta 400 family kit. Distribusi dilakukan menuju Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Tim tambahan juga bergerak menuju Ende, Nagekeo, dan Sikka.
School kit menjadi kebutuhan penting karena banyak anak meninggalkan rumah dengan cepat ketika gempa terjadi. Buku, tas, alat tulis, seragam, dan perlengkapan belajar bisa tertinggal di rumah yang kemudian tidak boleh dimasuki.
Pada tingkat penanganan bencana secara keseluruhan, bantuan yang masuk juga terus bertambah. BNPB mencatat sekitar 954 ton bantuan telah didistribusikan menuju wilayah NTT dari 15 sampai 22 Agustus. Bantuan dikirim melalui jalur menuju Labuan Bajo dan Maumere.
Ruang Kelas Aman Menjadi Tahap Penting Setelah Masa Darurat
Pekerjaan besar berikutnya berada pada penilaian bangunan. Ribuan ruang kelas perlu diperiksa untuk menentukan mana yang masih bisa digunakan, membutuhkan perbaikan, atau harus dibangun kembali.
Pemeriksaan tersebut penting karena gempa tidak selalu menghasilkan kerusakan yang mudah terlihat. Bagian luar sebuah bangunan dapat tampak relatif utuh sementara kolom, sambungan, atau bagian konstruksi tertentu telah kehilangan kekuatan.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi wilayah pengungsian bersama Kemendikdasmen menekankan perlunya identifikasi dan klasifikasi tingkat kerusakan fasilitas pendidikan. Sekolah yang tidak memungkinkan digunakan perlu menjadi prioritas untuk memperoleh ruang belajar sementara atau sekolah darurat.
Kecepatan tetap diperlukan, tetapi keamanan tidak boleh dikorbankan hanya demi mengembalikan jadwal sekolah secepat mungkin.
Gempa Flores memperlihatkan betapa luasnya pekerjaan pendidikan setelah bencana besar. Sekitar 38 ribu warga sekolah harus menjalani kehidupan di pengungsian berdasarkan laporan Kemendikdasmen, sementara 1.378 satuan pendidikan berada dalam wilayah yang terkena gempa dan lebih dari lima ribu ruang kelas mengalami kerusakan. Pada saat bersamaan, ribuan gempa susulan masih membuat penggunaan bangunan membutuhkan kehati hatian tinggi.
Tenda kelas, belajar dari rumah, pembelajaran daring, perlengkapan sekolah, serta pemeriksaan konstruksi kini berjalan bersama proses pemenuhan kebutuhan para pengungsi. Di sejumlah wilayah Flores, kegiatan belajar untuk sementara tidak lagi selalu berlangsung di balik dinding kelas, tetapi dapat berpindah ke tenda, rumah keluarga, maupun titik pengungsian selama bangunan sekolah belum dinyatakan aman.






