Monas Bersih Lagi, 164 Ton Sampah May Day Diangkut DLH DKI Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut 164 ton sampah sisa perayaan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional dan sejumlah titik lain pada Jumat, 1 Mei 2026. Jumlah tersebut menjadi gambaran besarnya aktivitas massa yang memadati pusat ibu kota dalam kegiatan May Day. Setelah acara selesai, petugas kebersihan bergerak sejak kegiatan berlangsung hingga kawasan publik kembali bersih. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menyatakan seluruh area Monas dan sekitarnya sudah dituntaskan melalui kerja kolektif petugas di lapangan.
DLH DKI Angkut 164 Ton Sampah dari Kawasan Monas
Kawasan Monas menjadi titik utama perayaan Hari Buruh 2026 di Jakarta. Ribuan peserta datang sejak pagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan, menyampaikan aspirasi, berkumpul bersama serikat buruh, dan mengikuti acara yang berlangsung di area terbuka. Keramaian besar seperti ini selalu memunculkan timbulan sampah dalam jumlah besar, terutama dari makanan, minuman, kemasan plastik, kertas, spanduk, dan kantong belanja.
DLH DKI mencatat total sampah yang diangkut setelah kegiatan mencapai 164 ton. Sampah itu berasal dari kawasan Monas dan area lain yang terkait dengan kegiatan Hari Buruh. Angka tersebut menunjukkan betapa berat pekerjaan petugas kebersihan setelah massa membubarkan diri. Pembersihan tidak hanya dilakukan di satu titik, tetapi mencakup area dalam Monas, sekitar Monas, serta titik penyangga yang digunakan peserta kegiatan.
Petugas Bergerak Sejak Acara Berlangsung
Dudi Gardesi menyebut petugas kebersihan bergerak sejak acara berlangsung hingga selesai. Cara ini dilakukan agar sampah tidak menumpuk terlalu banyak di akhir kegiatan. Jika semua sampah baru ditangani setelah massa pulang, area publik bisa sangat kotor, bau, dan sulit digunakan kembali oleh masyarakat.
Penanganan sejak awal acara juga membantu mencegah sampah terbawa angin, masuk ke saluran air, atau tercecer ke ruas jalan sekitar. Di lokasi sebesar Monas, sampah yang tidak segera dikumpulkan bisa menyebar ke taman, trotoar, pintu masuk, dan jalur pedestrian.
Area Publik Perlu Cepat Dipulihkan
Monas bukan hanya tempat kegiatan massa. Kawasan ini juga menjadi ruang publik, area wisata, jalur pejalan kaki, dan ikon ibu kota. Setelah kegiatan besar selesai, area tersebut perlu segera kembali bersih agar bisa digunakan warga lain.
DLH DKI menyatakan pembersihan dilakukan cepat dan terkoordinasi. Petugas bekerja dalam dua shift sejak acara berlangsung hingga selesai untuk memastikan tidak ada tumpukan sampah yang dibiarkan terlalu lama.
Petugas Kebersihan Bekerja dalam Dua Shift
Pembersihan kawasan Monas setelah May Day tidak bisa dilakukan oleh sedikit orang. Kegiatan berskala besar membutuhkan pembagian kerja yang rapi. Karena itu, petugas kebersihan ditempatkan dalam dua shift agar penanganan berlangsung lebih panjang dan tidak terputus.
Sistem dua shift membuat petugas bisa menjaga kebersihan saat acara masih berjalan, lalu melanjutkan pembersihan setelah massa mulai meninggalkan lokasi. Dengan cara ini, sampah yang muncul di titik keramaian bisa langsung dikumpulkan, sementara tim berikutnya menangani sisa sampah yang tertinggal setelah acara selesai.
Pembersihan Tidak Hanya Menyapu Permukaan
Membersihkan sampah setelah kegiatan besar bukan hanya menyapu botol dan bungkus makanan yang terlihat. Petugas harus mengangkat kantong sampah, memilah sebagian jenis sampah, membersihkan area taman, mengecek saluran, mengumpulkan sampah di bawah pagar, dan memastikan tidak ada sisa yang mengganggu pengguna kawasan.
Di area terbuka seperti Monas, sampah bisa tersebar luas. Angin dapat membawa plastik ringan ke rumput, taman, dan sudut bangunan. Karena itu, petugas harus menyisir area dengan teliti, bukan hanya membersihkan titik yang terlihat ramai.
Kerja Lapangan Perlu Koordinasi Rapi
Petugas kebersihan bekerja bersama armada pengangkut. Sampah yang sudah dikumpulkan harus segera dipindahkan ke truk agar tidak kembali tercecer. Jika pengangkutan terlambat, kantong sampah dapat menumpuk di pinggir jalan dan mengganggu akses kendaraan maupun pejalan kaki.
Koordinasi antara petugas penyapu, pengumpul, pengangkut, dan pengawas lapangan menjadi penting. Pekerjaan seperti ini menuntut ketepatan waktu karena kawasan Monas harus segera pulih setelah acara selesai.
Sebelum Acara, DKI Sudah Siagakan Ribuan Personel dan Armada
Penanganan 164 ton sampah tidak terjadi secara mendadak. Sebelum perayaan May Day, Pemprov DKI sudah menyiapkan petugas dan sarana kebersihan untuk menghadapi keramaian. Sebanyak 1.400 petugas kebersihan disiagakan dari gabungan Suku Dinas Lingkungan Hidup di lima wilayah kota administrasi serta Unit Penanganan Sampah Badan Air.
Persiapan ini menunjukkan bahwa kegiatan Hari Buruh sudah diperkirakan menghasilkan sampah dalam jumlah besar. RRI melaporkan fasilitas yang disiapkan meliputi 18 unit road sweeper, 12 unit truk anorganik, 12 unit truk compactor, 6 unit mobil lintas, 112 dustbin, 23 bus toilet, 23 toilet portable, serta 1.400 kantong plastik.
Monas dan Titik Penyangga Ikut Dijaga
Sarana kebersihan tidak hanya ditempatkan di area utama Monas. DLH juga menyiapkan fasilitas di taman Monas serta sejumlah kantong parkir seperti Lapangan Banteng, Kemayoran, dan kawasan Gelora Bung Karno. Langkah ini penting karena pergerakan massa tidak hanya berada di satu lapangan. Peserta datang, parkir, berjalan, berkumpul, lalu kembali melalui banyak jalur.
Jika titik penyangga tidak dijaga, sampah bisa menumpuk di luar area utama acara. Karena itu, pengelolaan kebersihan kegiatan besar harus melihat seluruh alur pergerakan peserta, bukan hanya panggung atau titik pusat acara.
Road Sweeper dan Truk Compactor Punya Peran Besar
Road sweeper membantu membersihkan ruas jalan dan permukaan yang luas. Truk compactor digunakan untuk memadatkan sampah agar kapasitas angkut lebih efisien. Sementara truk anorganik membantu menangani sampah yang dapat dipisahkan dari sisa makanan atau sampah residu.
Dengan sampah mencapai 164 ton, pengangkutan manual saja tidak cukup. Armada mekanis membuat pekerjaan lebih cepat, terutama setelah peserta membubarkan diri dan area harus segera digunakan kembali.
Sampah Didominasi Sisa Makanan dan Kemasan
Setelah kegiatan May Day di Monas, sampah yang terlihat berserakan didominasi sisa makanan, kemasan plastik, botol minuman, dan kantong plastik. Detik menampilkan potret kondisi kawasan Monas setelah massa mulai meninggalkan lokasi, dengan tumpukan sampah tampak di sejumlah titik.
Jenis sampah seperti ini umum muncul dalam kegiatan massa. Peserta membawa makanan, membeli minuman, menerima konsumsi, atau menggunakan kemasan sekali pakai selama berada di lokasi. Jika tidak segera dikumpulkan, sampah ringan seperti plastik dan kertas mudah menyebar.
Kemasan Sekali Pakai Menjadi Beban Utama
Kemasan sekali pakai menjadi tantangan besar dalam kegiatan publik. Botol plastik, gelas plastik, bungkus nasi, sedotan, kantong plastik, dan wadah makanan mudah dipakai, tetapi cepat menjadi sampah. Dalam keramaian besar, jumlahnya bisa melonjak hanya dalam beberapa jam.
Jika setiap peserta menghasilkan satu atau dua kemasan, timbulan sampah langsung bertambah besar. Karena itu, penempatan tempat sampah harus dibarengi imbauan kepada peserta agar membuang sampah pada titik yang benar.
Sisa Makanan Perlu Ditangani Cepat
Sisa makanan tidak bisa dibiarkan terlalu lama karena dapat menimbulkan bau dan mengundang lalat. Di area publik, sisa makanan juga dapat mengganggu kenyamanan warga yang datang setelah acara selesai.
Petugas perlu memisahkan sampah yang mudah membusuk dari sampah kemasan. Jika tercampur terlalu lama, sampah plastik yang sebenarnya masih bisa didaur ulang menjadi kotor dan lebih sulit diproses.
Tempat Sampah Terpilah Disiapkan di Titik Strategis
DLH DKI menyatakan telah menempatkan tempat sampah terpilah di berbagai titik strategis agar mudah dijangkau pengunjung. Dudi Gardesi menyebut fasilitas itu bukan hanya pelengkap, tetapi juga bagian dari edukasi publik agar masyarakat terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber.
Dalam laporan RRI, tempat sampah terpilah tersebut mencakup kategori mudah terurai untuk sisa makanan, material daur ulang seperti plastik dan karton, serta residu.
Pemilahan Harus Dimulai dari Peserta
Pemilahan tidak akan berhasil bila hanya dilakukan petugas di akhir acara. Peserta kegiatan perlu membuang sampah sesuai jenisnya sejak awal. Jika sisa makanan masuk ke tempat sampah daur ulang, kualitas sampah daur ulang akan turun. Jika plastik bercampur lumpur atau makanan, proses pemanfaatannya menjadi lebih sulit.
Dudi menegaskan setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Ia meminta masyarakat meletakkan sampah pada tempat yang disediakan dan melakukan pemilahan sejak awal bila memungkinkan.
Edukasi Perlu Diulang di Setiap Acara Besar
Kegiatan sebesar May Day menjadi kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kebersihan ruang publik adalah urusan bersama. Tempat sampah terpilah akan lebih berguna jika peserta memahami fungsinya. Tanpa pemahaman, tempat sampah hanya menjadi wadah biasa yang isinya tetap tercampur.
Panitia, petugas, dan pengeras suara acara dapat membantu memberi imbauan berkala. Imbauan yang sederhana, jelas, dan diulang beberapa kali akan membantu peserta lebih sadar menjaga area sekitar.
Massa Buruh Tetap Mendapat Apresiasi
Meski sampah yang diangkut mencapai 164 ton, DLH DKI tetap mengapresiasi partisipasi massa buruh yang ikut menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung. Dudi menilai kebiasaan baik seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah perlu terus diperkuat agar menjadi budaya bersama dalam setiap kegiatan publik.
Apresiasi ini penting karena kegiatan massa tidak bisa hanya dilihat dari jumlah sampah yang tersisa. Dalam keramaian besar, selalu ada tantangan kebersihan. Yang perlu terus diperbaiki adalah cara peserta, panitia, dan petugas bekerja bersama agar timbulan sampah tidak berubah menjadi masalah panjang.
Peserta Kegiatan Punya Peran Penting
Petugas kebersihan bisa membersihkan area setelah acara selesai, tetapi peserta punya peran besar saat acara berlangsung. Membawa tumbler, mengurangi kemasan sekali pakai, membuang sampah pada tempatnya, dan tidak meninggalkan bungkus makanan di area duduk adalah langkah sederhana yang sangat membantu.
Jika kebiasaan itu dilakukan oleh banyak orang, beban petugas akan jauh berkurang. Area kegiatan juga tetap nyaman sepanjang acara, bukan hanya bersih setelah acara selesai.
Panitia Perlu Menyiapkan Jalur Sampah
Panitia kegiatan besar perlu menyediakan jalur pengelolaan sampah yang jelas. Titik tempat sampah harus mudah ditemukan, petugas pengarah harus mengetahui lokasinya, dan area konsumsi perlu diawasi lebih ketat.
Jika konsumsi dibagikan dalam jumlah besar, panitia dapat menyiapkan titik pengumpulan khusus untuk kemasan. Dengan cara itu, peserta tidak membuang sampah sembarangan karena tempatnya sudah tersedia dekat dengan area makan.
Tabel Kesiapan Kebersihan May Day 2026 di Jakarta
Berikut gambaran sejumlah persiapan dan hasil pembersihan yang dilaporkan dalam kegiatan May Day 2026 di Jakarta.
| Bagian Penanganan | Jumlah atau Keterangan |
|---|---|
| Sampah yang diangkut setelah kegiatan | 164 ton |
| Petugas kebersihan disiagakan | 1.400 orang |
| Sistem kerja petugas | Dua shift |
| Road sweeper | 18 unit |
| Truk anorganik | 12 unit |
| Truk compactor | 12 unit |
| Mobil lintas | 6 unit |
| Dustbin | 112 unit |
| Bus toilet | 23 unit |
| Toilet portable | 23 unit |
| Kantong plastik | 1.400 kantong |
| Titik penanganan | Monas, taman Monas, Lapangan Banteng, Kemayoran, GBK, dan area lain |
Data kesiapan itu berasal dari laporan mengenai pengerahan personel dan sarana kebersihan sebelum kegiatan, serta laporan pengangkutan sampah setelah perayaan Hari Buruh selesai.
Monas Sebagai Ruang Publik Selalu Menghadapi Tekanan Keramaian
Monas sering menjadi lokasi kegiatan besar di Jakarta. Aksi massa, perayaan nasional, konser, kegiatan keagamaan, hingga acara komunitas dapat menghadirkan puluhan ribu sampai ratusan ribu orang. Setiap kegiatan membawa beban kebersihan yang berbeda.
Dalam kegiatan Hari Buruh 2026, peserta diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. RRI menyebut peringatan tersebut diperkirakan diikuti sekitar 300.000 buruh dan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Keramaian Besar Butuh Aturan Kebersihan yang Tegas
Ketika massa berkumpul dalam jumlah besar, pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari rencana acara, bukan urusan setelah acara selesai. Harus ada tempat sampah, jalur pengangkutan, petugas, armada, toilet, dan titik pengumpulan sementara.
Jika fasilitas kurang, peserta akan kesulitan membuang sampah dengan benar. Akhirnya, bungkus makanan dan botol minuman tertinggal di taman, jalan, dan area duduk. Ketersediaan fasilitas menjadi syarat awal sebelum masyarakat diminta disiplin.
Kebersihan Menentukan Wajah Kota
Monas adalah wajah Jakarta. Setelah acara besar selesai, kondisi Monas menjadi perhatian publik. Foto sampah berserakan dapat menyebar cepat, tetapi kerja petugas yang membersihkan area juga perlu mendapat tempat dalam pemberitaan.
Jumlah 164 ton sampah menunjukkan beratnya pekerjaan di balik pemulihan ruang publik. Petugas kebersihan bekerja ketika sebagian besar peserta sudah pulang. Mereka memastikan kawasan yang sempat penuh massa dapat kembali digunakan masyarakat.
Petugas Kebersihan Menjadi Barisan Terakhir Setelah Acara
Setelah panggung selesai, peserta pulang, dan arus kendaraan berangsur normal, petugas kebersihan masih berada di lapangan. Mereka mengangkat kantong sampah, menyapu jalan, membersihkan taman, dan memastikan tidak ada tumpukan di titik ramai.
Pekerjaan ini sering tidak terlihat saat acara berlangsung, tetapi menjadi penentu kenyamanan kota. Tanpa petugas kebersihan, kawasan sebesar Monas akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali bersih.
Mereka Bekerja Saat Kondisi Fisik Sudah Berat
Pembersihan setelah acara besar biasanya dilakukan dalam kondisi melelahkan. Petugas harus bergerak di tengah sisa keramaian, cuaca panas atau lembap, lalu mengangkat sampah dalam jumlah besar. Pada malam hari, pekerjaan tetap berlangsung agar area tidak tertinggal kotor hingga esok pagi.
Kerja dua shift membantu membagi beban, tetapi volume 164 ton tetap menunjukkan pekerjaan yang sangat besar. Karena itu, kedisiplinan peserta membuang sampah pada tempatnya menjadi bentuk penghargaan nyata kepada petugas lapangan.
Armada Harus Bergerak Cepat
Sampah yang sudah dikumpulkan harus segera diangkut. Jika tidak, tumpukan dapat mengganggu lalu lintas internal kawasan, mengeluarkan bau, dan menarik hewan. Truk compactor dan truk anorganik menjadi bagian penting agar sampah tidak hanya dipindahkan dari satu titik ke titik lain, tetapi benar benar keluar dari area kegiatan.
Kecepatan pengangkutan juga membantu mengurangi potensi sampah masuk ke saluran air. Botol plastik, kantong plastik, dan sisa kemasan dapat menyumbat saluran jika terbawa air hujan.
Sampah Kegiatan Besar Perlu Dikurangi dari Sumbernya
Mengangkut 164 ton sampah adalah pekerjaan besar, tetapi langkah yang lebih baik adalah mengurangi sampah sejak awal. Kegiatan publik dapat mulai memakai sistem konsumsi yang lebih tertib, mengurangi kemasan sekali pakai, dan mendorong peserta membawa botol minum sendiri.
Langkah ini tidak mudah karena acara besar melibatkan banyak pihak. Namun, kebiasaan baru harus dimulai. Jika setiap kegiatan besar selalu menghasilkan puluhan sampai ratusan ton sampah, beban pengelolaan kota akan semakin berat.
Vendor Makanan Perlu Ikut Diatur
Jika ada pedagang makanan dan minuman di sekitar lokasi acara, mereka perlu diberi aturan pengemasan. Misalnya mengurangi kantong plastik tambahan, menyediakan tempat pengembalian kemasan tertentu, atau menggunakan wadah yang lebih mudah dikumpulkan.
Panitia juga bisa membuat zona makanan dengan tempat sampah lebih banyak. Dengan begitu, sampah konsumsi terkumpul di area yang mudah ditangani petugas.
Peserta Bisa Membawa Perlengkapan Sendiri
Peserta kegiatan dapat membawa botol minum, wadah kecil, atau tas kain. Langkah ini terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan banyak orang, jumlah sampah plastik bisa berkurang.
Membawa perlengkapan sendiri juga membantu peserta lebih nyaman selama acara. Mereka tidak perlu terus membeli minuman kemasan dan tidak menambah sampah dari barang sekali pakai.
Setelah 164 Ton Sampah Terangkut, Pekerjaan Kebersihan Belum Berhenti
Setelah sampah diangkut, masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. Area perlu dicek kembali, tempat sampah dikosongkan, fasilitas publik diperiksa, taman dirapikan, dan saluran air dipastikan tidak tersumbat. Pembersihan kegiatan besar tidak selesai hanya saat truk sampah meninggalkan lokasi.
DLH DKI menyatakan seluruh area Monas dan sekitarnya telah dituntaskan. Pernyataan ini menunjukkan pembersihan dilakukan sampai area utama kembali pulih. Namun, kegiatan besar berikutnya tetap membutuhkan kesiapan serupa, karena Monas akan terus menjadi pusat berbagai acara publik di Jakarta.
Evaluasi Lapangan Perlu Dilakukan
Jumlah 164 ton sampah dapat menjadi bahan evaluasi. Pemerintah bisa melihat titik mana yang paling banyak menghasilkan sampah, jenis sampah apa yang dominan, tempat sampah mana yang cepat penuh, dan jalur pengangkutan mana yang paling efektif.
Evaluasi seperti ini penting agar kegiatan berikutnya lebih siap. Jika pola keramaian sudah diketahui, penempatan petugas dan armada dapat dibuat lebih presisi.
Budaya Bersih Perlu Dibangun Bersama
Dudi Gardesi menekankan pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Pesan ini menjadi penting karena kegiatan besar selalu melibatkan banyak pihak, mulai dari peserta, panitia, pedagang, petugas keamanan, hingga pengelola kawasan.
May Day 2026 di Monas meninggalkan catatan besar. Aspirasi buruh tersampaikan di ruang publik, sementara 164 ton sampah harus diangkut agar kawasan kembali bersih. Di balik angka itu, ada kerja panjang petugas kebersihan dan ada pelajaran bagi semua peserta kegiatan besar di ibu kota: menyampaikan suara di ruang publik perlu berjalan bersama tanggung jawab menjaga tempat yang digunakan bersama.






