IDAI: Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus

Kesehatan18 Views

IDAI: Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menilai campak dan difteri masih lebih mendesak ditangani di Indonesia dibanding hantavirus. Pernyataan ini muncul ketika perhatian publik sedang tertuju pada hantavirus setelah adanya laporan klaster penyakit tersebut di kapal pesiar luar negeri. IDAI mengingatkan bahwa Indonesia memiliki persoalan penyakit menular yang jauh lebih dekat dengan kehidupan anak sehari hari, terutama penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof Dominicus Husada, menyebut sumber daya kesehatan perlu diarahkan pada penyakit yang kasusnya nyata lebih banyak di Indonesia. Ia mencontohkan campak dan difteri yang masih muncul dalam beberapa tahun terakhir, sementara hantavirus di Indonesia belum menjadi ancaman luas bagi masyarakat umum. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi daring di Jakarta pada Jumat, 8 Mei 2026.

Campak dan Difteri Dinilai Lebih Dekat dengan Risiko Anak Indonesia

Campak dan difteri tidak asing bagi layanan kesehatan Indonesia. Keduanya termasuk penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi, tetapi tetap muncul ketika cakupan vaksinasi menurun atau ada kelompok anak yang belum mendapat perlindungan lengkap.

IDAI melihat persoalan campak dan difteri lebih mendesak karena penularannya sudah terbukti terjadi di banyak wilayah. Campak mudah menyebar lewat udara dan percikan saluran napas, sedangkan difteri dapat menyerang saluran napas bagian atas dan menghasilkan racun yang berbahaya bagi tubuh. Kondisi seperti ini membuat tenaga kesehatan harus bergerak cepat saat muncul kasus, terutama di lingkungan anak yang belum lengkap imunisasinya.

Penyakit Lama yang Belum Tuntas

Dominicus menyebut difteri sudah belasan tahun menjadi persoalan, sementara campak kembali meningkat dalam dua sampai tiga tahun terakhir. Ia menilai penyakit seperti campak, difteri, pertusis, dan tetanus memiliki jumlah kasus yang jauh lebih perlu dikejar dibanding hantavirus.

Pernyataan ini memberi pesan tegas bahwa perhatian publik jangan hanya tersedot pada penyakit yang sedang ramai dibicarakan. Penyakit yang sudah lama dikenal justru dapat menimbulkan beban besar bila imunisasi tidak lengkap, pelacakan kasus lambat, dan masyarakat tidak segera mencari pertolongan saat anak menunjukkan gejala.

Imunisasi Menjadi Benteng Utama

Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan bahwa cakupan imunisasi sempat turun setelah pandemi. Kemenkes menyebut imunisasi rutin adalah kunci utama untuk mencegah kejadian luar biasa seperti campak, difteri, atau pertusis bila cakupan tidak optimal.

Pada anak, imunisasi bukan hanya melindungi satu orang. Ketika banyak anak dalam satu lingkungan mendapat vaksin, penularan penyakit ikut ditekan. Sebaliknya, bila banyak anak belum lengkap imunisasi, penyakit mudah menemukan celah untuk menyebar.

Data Campak Menjadi Alarm Serius

Campak menjadi contoh jelas mengapa IDAI meminta pemerintah lebih fokus pada penyakit yang sudah ada di depan mata. Kementerian Kesehatan mencatat kasus campak pada awal 2026 sempat tinggi, lalu menurun setelah upaya pengendalian dilakukan.

Hingga minggu ke 12 tahun 2026, Kemenkes melaporkan kasus harian campak turun 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada minggu pertama menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret. Meski turun tajam, Kemenkes tetap menjalankan surveilans ketat karena penurunan angka tidak berarti risiko sudah hilang.

Penurunan Bukan Alasan untuk Lengah

Penurunan kasus campak harus dibaca sebagai hasil kerja yang perlu dijaga. Jika pengawasan melemah atau imunisasi tertunda, kasus dapat kembali naik. Campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular, sehingga satu kasus dapat menyebar cepat di lingkungan yang banyak berisi anak belum kebal.

Kemenkes juga melaporkan bahwa sistem surveilans tetap berjalan melalui New All Record dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons dari fasilitas kesehatan, kemudian diverifikasi bersama dinas kesehatan daerah. Langkah seperti ini penting agar laporan kasus tidak terlambat dan daerah dapat segera merespons.

KLB Campak Sempat Menyebar ke Banyak Wilayah

Data Kemenkes yang dikutip beberapa kanal resmi daerah menunjukkan hingga minggu ke 8 tahun 2026 terdapat 10.453 suspek campak, 8.372 kasus terkonfirmasi, enam kematian, serta 45 kejadian luar biasa di 29 kabupaten dan kota pada 11 provinsi.

Angka seperti ini menjelaskan alasan IDAI menempatkan campak sebagai perhatian utama. Penyakit tersebut bukan hanya muncul sebagai kabar satu dua kasus, tetapi sudah menyentuh banyak daerah dan membutuhkan respons yang rapi dari fasilitas kesehatan, sekolah, keluarga, serta pemerintah daerah.

Difteri Tidak Boleh Dipandang Ringan

Difteri sering tidak mendapat sorotan sebesar campak, tetapi penyakit ini tetap berbahaya. Infeksi difteri dapat menimbulkan selaput tebal di tenggorokan, kesulitan bernapas, gangguan jantung, kelumpuhan, hingga kematian bila terlambat ditangani.

IDAI menilai difteri tetap perlu menjadi prioritas karena penyakit ini masih muncul dan berkaitan erat dengan celah imunisasi. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap lebih rentan terkena penyakit tersebut. Dalam situasi seperti ini, vaksinasi, deteksi dini, dan pemberian terapi cepat menjadi bagian penting dari pengendalian.

Perlindungan Anak Tidak Bisa Ditunda

Orang tua perlu memastikan anak menerima imunisasi dasar dan lanjutan sesuai jadwal. Difteri dicegah melalui vaksin kombinasi yang termasuk dalam program imunisasi rutin. Bila ada anak tertinggal jadwal imunisasi, orang tua dapat mendatangi puskesmas, klinik, atau dokter anak untuk mengejar dosis yang belum lengkap.

Penundaan imunisasi sering terjadi karena orang tua takut anak demam setelah vaksin, terpengaruh informasi keliru, atau merasa penyakit lama tidak lagi ada. Padahal, kemunculan kasus campak dan difteri menunjukkan bahwa penyakit tersebut masih berada di sekitar masyarakat.

Sekolah dan Pesantren Perlu Ikut Waspada

Lingkungan dengan banyak anak seperti sekolah, pesantren, tempat penitipan anak, dan asrama perlu lebih disiplin memantau gejala. Bila ada anak demam, batuk, ruam, nyeri tenggorokan berat, atau tampak sulit bernapas, keluarga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Pihak sekolah juga perlu membantu edukasi orang tua agar status imunisasi anak diperiksa. Pemeriksaan ini tidak untuk menyalahkan keluarga, melainkan untuk melindungi seluruh lingkungan belajar dari penularan yang lebih luas.

Hantavirus Tetap Diwaspadai, tetapi Tidak Perlu Panik

IDAI tidak meminta masyarakat mengabaikan hantavirus. Pesannya adalah menempatkan risiko secara proporsional. Hantavirus memang bisa berat, tetapi pola penularannya berbeda dari campak dan difteri. Virus ini umumnya berkaitan dengan paparan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

WHO menjelaskan hantavirus pulmonary syndrome dapat diawali demam, nyeri otot, menggigil, sakit kepala, keluhan saluran cerna, lalu dapat berlanjut menjadi gangguan napas dan tekanan darah rendah. Gejala biasanya muncul satu sampai enam minggu setelah paparan, tetapi dapat muncul sampai delapan minggu.

Klaster Kapal Pesiar Memicu Perhatian Dunia

Perhatian terhadap hantavirus meningkat setelah WHO melaporkan klaster yang berkaitan dengan perjalanan kapal pesiar lintas negara. Dalam klaster tersebut, beberapa kasus dikaitkan dengan Andes virus, jenis hantavirus yang memiliki catatan penularan antarmanusia dalam keadaan tertentu, terutama kontak dekat dan lama.

Namun, keadaan di kapal pesiar tidak otomatis sama dengan keadaan masyarakat luas di Indonesia. IDAI menilai kasus hantavirus di Indonesia tidak menjadi ancaman mendesak seperti campak dan difteri. Dominicus juga menyarankan masyarakat memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat karena langkah itu murah dan dapat dilakukan setiap keluarga.

Risiko Publik Disebut Lebih Rendah

Laporan terbaru di daerah juga menunjukkan kewaspadaan tetap berjalan. Dinas Kesehatan Kulon Progo menyatakan suspek hantavirus pada seorang warga telah dinyatakan negatif berdasarkan pemeriksaan laboratorium Kemenkes.

Informasi seperti ini penting agar masyarakat tidak langsung panik setiap mendengar kata hantavirus. Kewaspadaan tetap perlu, terutama dengan menjaga kebersihan rumah dan mengendalikan tikus. Namun, perhatian pada penyakit yang sedang nyata menyebar luas tetap harus lebih kuat.

Mengapa Campak Lebih Mudah Menyebar

Campak dikenal sebagai salah satu penyakit yang sangat menular. Anak yang belum kebal dapat tertular ketika berada dekat dengan penderita, terutama di ruang tertutup atau lingkungan padat. Gejala dapat berupa demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam yang menyebar di tubuh.

Karena penularannya cepat, satu kasus campak di sekolah atau permukiman dapat memicu pemeriksaan lebih luas. Jika ditemukan banyak anak belum imunisasi, petugas kesehatan perlu bergerak cepat melakukan pelacakan dan imunisasi susulan.

Mobilitas Keluarga Memperbesar Peluang Sebaran

Libur panjang, mudik, kegiatan sekolah, dan pertemuan keluarga dapat mempertemukan anak dari banyak wilayah. Bila ada anak sakit tetapi tetap bepergian, penularan dapat berpindah ke daerah lain. Karena itu, Kemenkes sebelumnya meminta warga mewaspadai campak menjelang periode mobilitas besar dan mempercepat imunisasi di wilayah berisiko.

Orang tua perlu mengenali tanda awal campak dan tidak memaksakan anak sakit untuk masuk sekolah atau bepergian. Anak yang demam dan muncul ruam perlu diperiksa agar tenaga kesehatan dapat menilai apakah perlu isolasi, pemeriksaan lanjutan, atau pelaporan.

Anak Belum Imunisasi Lebih Rentan

Campak paling berbahaya bagi anak kecil, anak dengan gizi buruk, dan anak dengan daya tahan tubuh lemah. Komplikasi dapat berupa pneumonia, diare berat, radang telinga, gangguan mata, sampai radang otak. Inilah alasan imunisasi campak rubella atau MR menjadi bagian penting dari perlindungan anak.

Saat orang tua melengkapi imunisasi, mereka tidak hanya melindungi anak sendiri. Mereka juga membantu melindungi bayi yang belum cukup umur untuk menerima vaksin dan anak yang memiliki kondisi medis tertentu.

PHBS Tetap Penting untuk Hantavirus

Meski IDAI menilai campak dan difteri lebih mendesak, pencegahan hantavirus tetap perlu dipahami. Kunci pencegahannya adalah mengurangi paparan terhadap hewan pengerat dan kotorannya. Rumah, gudang, dapur, loteng, dan tempat penyimpanan makanan harus dijaga agar tidak menjadi tempat tikus berkembang.

CDC menyebut gejala hantavirus pulmonary syndrome biasanya muncul satu sampai delapan minggu setelah kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Gejala awal dapat berupa lelah, demam, dan nyeri otot.

Jangan Menyapu Kotoran Tikus Sembarangan

Area yang diduga terdapat kotoran tikus tidak sebaiknya langsung disapu kering karena debu dapat terhirup. Bersihkan dengan cara basah, gunakan pelindung, dan buang sampah tertutup. Makanan perlu disimpan dalam wadah rapat, celah masuk tikus ditutup, dan lingkungan rumah dijaga tidak menjadi tempat bersarang.

Langkah ini sesuai dengan pesan IDAI bahwa pencegahan hantavirus bisa dimulai dari orang per orang dan keluarga. PHBS tetap menjadi cara sederhana untuk mengurangi risiko, tanpa membuat masyarakat teralihkan dari pekerjaan besar menutup celah imunisasi campak dan difteri.

Pemerintah Diminta Fokus pada Penyakit yang Bisa Dicegah

Pesan IDAI kepada pemerintah cukup jelas. Penyakit seperti campak, difteri, pertusis, dan tetanus harus dikejar melalui imunisasi, surveilans, edukasi, dan respons cepat. Dominicus menyebut kasus infeksi di Indonesia sangat banyak, sementara sumber daya untuk mengatasinya terbatas.

Dalam keadaan sumber daya terbatas, prioritas menjadi sangat penting. Penyakit yang kasusnya banyak, mudah menular, dan sudah memiliki vaksin perlu ditangani dengan sangat serius. Bila vaksin tersedia tetapi anak belum mendapatkannya, maka sistem kesehatan perlu memperbaiki akses, komunikasi, dan kepercayaan masyarakat.

Cakupan Imunisasi Perlu Dikejar

Kemenkes menyebut pemerintah memperkuat imunisasi nasional dengan fokus menjangkau anak yang belum pernah mendapat vaksin atau zero dose. Kemenkes juga memastikan ketersediaan vaksin secara nasional sebagai bagian dari penguatan imunisasi rutin.

Upaya ini perlu dibarengi kerja daerah. Puskesmas, posyandu, sekolah, kader, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dapat membantu memastikan anak yang belum lengkap imunisasi tidak tertinggal. Data anak perlu diperbarui agar petugas tahu siapa yang harus dijangkau.

Hoaks Vaksin Harus Dilawan dengan Penjelasan Tenang

Salah satu tantangan terbesar imunisasi adalah informasi keliru. Orang tua yang ragu sering bukan karena tidak peduli, tetapi karena menerima informasi menakutkan dari media sosial atau lingkungan sekitar. Tenaga kesehatan perlu menjawab keraguan dengan bahasa yang tenang, bukan menyalahkan.

Keluarga perlu mendapat penjelasan tentang manfaat vaksin, reaksi ringan yang mungkin muncul, serta risiko penyakit bila anak tidak dilindungi. Dengan cara ini, kepercayaan dapat dibangun kembali.

Orang Tua Perlu Memeriksa Buku Imunisasi Anak

Langkah yang dapat dilakukan keluarga adalah memeriksa buku imunisasi anak. Pastikan vaksin dasar dan lanjutan tidak tertinggal. Bila ada jadwal yang terlewat, segera berkonsultasi dengan puskesmas atau dokter anak untuk mengejar imunisasi.

Orang tua juga perlu segera mencari pertolongan bila anak demam tinggi, batuk pilek disertai ruam, sulit bernapas, nyeri tenggorokan berat, atau tampak sangat lemah. Deteksi dini membantu petugas kesehatan menentukan penanganan dan mencegah penularan ke anak lain.

Jangan Menunggu Sakit Menyebar di Rumah

Jika satu anak dicurigai terkena campak atau difteri, anggota keluarga lain perlu diperhatikan. Anak sakit sebaiknya tidak masuk sekolah sampai diperiksa dan dinilai aman oleh tenaga kesehatan. Peralatan makan, masker, kebersihan tangan, dan ventilasi rumah juga perlu dijaga.

Pada saat yang sama, keluarga tetap dapat menjaga rumah dari tikus untuk mencegah risiko hantavirus. Bersihkan lingkungan, tutup makanan, dan jangan membiarkan sampah menumpuk. Dengan begitu, perhatian terhadap campak dan difteri tidak membuat pencegahan penyakit lain diabaikan.

Pesan IDAI untuk Menata Prioritas Kesehatan Anak

Pernyataan IDAI tentang campak dan difteri lebih mendesak dari hantavirus bukan ajakan untuk meremehkan penyakit baru. Pesannya adalah mengatur perhatian sesuai risiko yang paling nyata di Indonesia. Hantavirus perlu dikenali dan dicegah melalui kebersihan lingkungan serta pengendalian tikus, tetapi campak dan difteri sudah terbukti menjadi persoalan besar yang bisa menyerang anak bila imunisasi tidak lengkap.

Bagi keluarga, langkah paling dekat adalah melengkapi imunisasi, menjaga anak sakit tetap di rumah, memeriksa gejala sejak awal, dan membersihkan lingkungan. Bagi pemerintah, pekerjaan utamanya adalah memastikan vaksin tersedia, data anak akurat, surveilans berjalan, dan informasi keliru tentang imunisasi dijawab dengan penjelasan yang mudah dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *